Dari kejauhan, Yaya berdiri disudut lorong dengan Adelia. "Wei! Jangan tinggalin kita dong!" pekik Yaya pada Vivin dan Intan yang ada di depan mading sambil menghentakkan kakinya. Lalu Yaya menarik Adel, mereka berlari kecil menuju Vivin dan Intan.
"Lo juga sih, telat!" seru Vivin dan Intan bersamaan.
"Ya udah deh! Ada apaan, sih?" tanya Adel penasaran.
"Tuh! Ada lomba model!" sahut Vivin bersemangat.
"Kayaknya...Lebih penting dari kita berdua, deh." ucap Yaya cuek.
Dan dari jauh, Pipah berjalan santai menuju mereka. Gadis itu berjalan sombong dengan kacamata hitamnya. "Hari ini...Kayaknya cuacanya gelap banget deh..." gumam Pipah sambil berjalan. Saat melihat teman-temannya di depan mading, Pipah tersentak kaget, "Waduh! Kok...? Temen-temen aku... Kulitnya...Gelap semua, ya??" Lalu Pipah kembali berjalan, "Cuman aku aja nih yang putih." ucap Pipah bangga. Lalu ia mendekati Vivin, Intan, Yaya, dan Adel yang di depan mading.
Teman-temannya itu memperhatikan tingkah Pipah. "Aduh...Kok hari ini panas banget, ya...?" gumam Pipah. "Husna!!!" panggil Pipah.
Terdengar suara Husna yang sangat keras dari jauh, "Apaan bos??"
"Sini, dong!!" panggil Pipah lagi.
"Siap, bos!" Husna pun berlari kecil kearah mereka semua sambil membawa payung pink milik Pipih.
Saat Husna sudah dibelakang Pipah, ia memayungi Pipah agar Pipah gak kepanasan. Lalu Pipah melepas kacamatanya dan menyerahkan kacamatanya pada Husna.
"Hai, Friend!!" sapa Pipah SKSD banget sambil memegang bahu Adel yang disampingnya.
"Hai juga!" sahut Vivin, Yaya, Intan, dan Adel bersamaan. Setelah itu, Pipah berjalan ke tengah-tengah mereka dan merangkul bahu Vivin dan Intan, lalu menggiring mereka berempat lebih ke depan menjauh dari mading,
"Eh, mau tau gak?" tanya Pipah pada mereka berempat.
"Apaan, sih??" seru mereka berempat bersamaan.
"Mau tau, gak??"
"Apaan sih????"
"Mau tau gak????"
"Apaan, sih???!!??"
"Gak ada apa-apa.." ucap Pipah santai.
"Yeeee..." seru mereka berempat kecewa. Dikirain ada apaan. Eh,,,Ternyata gak ada apa-apa! Dasar Pipah! Cari perhatian mulu! Mereka berenam pun kembali ke mading.
Saat asik berbincang-bincang di depan mading, Febi dan Dea datang. "Maaf, boleh liat, gak?" tanya Febi yang dibelakang mereka tak dapat melihat mading. "Ih... Apaan sih kalian? Gak penting banget!" seru Yaya angkuh sambil mendorong bahu Febi dengan kasar. Febi pun terpental beberapa langkah kebelakang.
"Aw! Sakit tau!" seru Febi sambil memegang bahunya.
"Emang gue pikirin!" seru mereka berenam bersamaan dengan cueknya menatap Febi dengan wajah bete.
"Kalian semua itu jahat tau gak!" ucap Febi kesal sambil menunjuki mereka berenam satu-satu.
"Udah, Feb, mereka emang kaya gitu! Kita pergi aja deh!" bujuk Dea.
"Ya udah, yuk! Kita temuin temen-temen!" ucap Febi sambil berlalu pergi bersama Dea.
Mereka berenam pun kembali menatap mading.
.......
Di lain tempat, Aziza, Erni, Mely, Safrina, dan Endah sedang berkumpul. Lalu datang Febi dan Dea dengan wajah kusut. "Dey? Kamu kenapa?" tanya Aziza sambil menyentuh bahu Dea dan menatap Dea. Dea diam saja. Aziza pun berpaling pada Febi,
"Febi? Dea kenapa?" tanya Aziza pada Febi. Tapi Febi juga hanya diam. "Iya nih! Kenapa?" tanya Endah dan Safrina bersamaan. "Menurut buku yang aku..." ucap Safrina, tapi langsung di potong Mely, "Eit! Sebelum buku, sebelum buku!" Mely mendekati Safrina, "Kamu kok buku melulu? Emang ada apaan sih?" tanya Mely. "Makanya..Dengerin dulu dong!" ucap Endah. "Yaudah deh, aku lanjutin ya? Menurut buku yang aku baca, persahabatan yang baik, adalah, persahabatan yang saling terbuka, satu sama lain." ucap Safrina sok tau. "Emang ada apa sih?" tanya Erni pada Dea dan Febi.
"Itu tuh geng usil! Kita mau liat mading aja gak boleh!" ucap Febi kesal.
"Apa?! Belagu banget sih mereka!" ucap Aziza agak ikutan kesal.
"Yuk kita samperin!" ucap Erni sambil berjalan duluan ke arah mading yang gak terlalu jauh dari mereka. Aziza pun mengikuti Erni. "Eh, ikut dong!" ucap Endah, Safrina, dan Mely mengikuti Aziza dan Erni.
Tinggal Febi dan Dea disana.
.............
Aziza dan yang lainnya pun mendekati Vivin, Intan, Yaya, Adel, pipah dan Husna yang sedang asik menggosip di depan mading. Melihat kedatangan Aziza dan yang lainnya, mereka berenam membuka gerombol mereka tadi dan melingkar.
"Kalian betul, ngusir temen-temen aku?" tanya Azizaketus sambil menunjuk mereka berenam masing-masing.
Merasa ditantang, Yaya menjawab, "Kalo iya, emangnya kenapa??"
"Kalian itu ya! Beraninya sama yang lemah doang!" ucap Aziza lagi.
"Ni lagi! Kalo bener emangnya kenapa???" sahut Adel.
"Kalian itu ya! Gak bisa dibilangin..." Seru Erni dongkol.
"Eee...Tunggu, tunggu! Bos gue ada keringat nih!" ucap Husna sambil mengambil sapu tangan dari saku bajunya dan mengusap keringat yang ada diwajah Pipah. "Ya udah deh, lanjutin aja lagi." ucap Husna setelah selesai mengusap keringat Pipah.
"Ih.. Cemen banget sih temen lo itu! Apa-apa...Temen! Ini... Temen! Itu..Temen! Emangnya..Temen lo itu anak lo, apa??" seru Vivin.
"Tau! Dasar manja!" ejek Intan.
"Iya, nih! Masalah kaya gini aja dibesar-besarin! Badan gue aja dari dulu gak besar-besar! Tapi...Gue cantik, sih.." ucap Pipah yang memang punya tubuh mungil.
"Huuu...!!!" Sorak yang lain tak setuju.
"Penting tau! Anak-anak ini mesti di kasih pelajaran! Agar gak ngelunjak!" ucap Erni sambil menunjuk mereka berenam dengan kesal.
...............
Edo datang menghampiri Febi dan Dea, "Dea? Febi? Temen-temen ada apaan tuh?" tanya Edo saat melihat Aziza dan yang lain sedang berkumpul di depan mading. "Tau tuh! Kita samperin yuk!" ucap Febi dan Dea. Lalu... Edo, Febi dan Dea pun menghampiri mereka semua.
..............
Hampir saja terjadi pertengkaran, mereka semua sudah akan saling berkelahi, tapi Leskar datang melerai ditengah-tengah mereka. "Woi! Ada apaan nih?! Kok mau bertengkar! Kalo mau bertengkar, sana didepan kantor kepala sekolah!" seru Leskar dengan tegas. Lalu Edo mendekati Adel , "Del, kamu gak papa, kan?" tanya Edo tampak khawatir. Adel cuek aja dan buang muka.
"Ih... Edo! Kok kamu malah belain mereka sih! Bukannya belain temen-temen kita!" seru Febi kesal sambil menghentakkan kakinya.
"Iya nih, gak cs banget!" ucap Aziza makin kesal.
"Kalian ini kenapa sih! Kenapa kayak gini!" ucap Safrina yang sejak tadi diam.
"Menurut buku yang aku baca, persahabatan yang baik, adalah persahabatan yang saling mengalah dan mengerti ketika ada pertengkaran, seperti kalian ini!" ucap Endah mengelilingi mereka.
"Ih...!!! Apa sih, arti persahabatan bagi kalian semua?? Apa ini yang dinamakan persahabatan?? Coba kalian renungkan! Apa ini, cara untuk menyelesaikan pertengkaran??" ucap Dea keki.
Semua terdiam...
Lalu terdengar lantunan lagu suara dari Luna Maya dari speaker sekolah. Semua berbalik dan merenung...
............. Saat lagu suara selesai, Mereka selesai merenung lalu saling berma'afan.
"Bener juga apa kata Dea tadi..." ucap Aziza.
"He-eh... Ada benernya juga..." ucap Adel sambil mengengguk setuju.
"Kapan-kapan...Kita ngumpul bareng, yuk!" Seru Vivin.
"Alah...Tadi, marah-marahan ampe mau gontok-gontokan! Sekarang?" ucap Dea kesal.
"Eh, Dea! Dukung ke', kenapa?" ucap Endah.
"Paling-paling... Dea cuman becanda!" ucap Safrina. "Iya kan, Dey?"
"Iya. Aku becanda aja kok! Lagian... Aku seneng kalo keadaan kita kayak gini..." ucap Dea sambil tersenyum.
"Eh, eh... Tunggu dulu..." ucap Febi sambil berpikir, "Tadi kata Pipah... Dia yang cantik, atau aku ya...?"
"Huuuuu....!!!" sorak semuanya tak setuju.
"SEE YOU, ALL!!!" seru Febi, Dea, Safrina, Endah, Mely, dan Aziza.
"Yu, ya, yu!!!" sahut Vivin, Intan, Yaya, Adel, Pipah, dan Husna.
###
